Pilarupdate.com — Akademisi dan pengamat politik Rocky Gerung kembali mendapat sorotan publik setelah pernyataannya baru‑baru ini terkait kondisi kesehatan Presiden ke‑7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan di Polda Metro Jaya pada Selasa, 27 Januari 2026, Rocky Gerung menyatakan kekhawatirannya terhadap kondisi kesehatan Jokowi dan memberi saran khusus yang langsung memicu reaksi dari berbagai pihak.
Latar Belakang Kejadian
Insiden ini terjadi saat Rocky Gerung memenuhi panggilan pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Ia hadir sebagai ahli yang dimintai keterangan terkait kasus dugaan ijazah palsu Jokowi, yang melibatkan beberapa tersangka seperti Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, dan dokter Tifauziah Tyassuma. Dalam kesempatan itu Rocky tidak hanya berbicara soal metodologi dan peran penelitian, tetapi juga mengomentari isu yang lebih sensitif: kondisi kesehatan mantan presiden tersebut.
Pernyataan Rocky Gerung yang Kontroversial
Rocky berkata bahwa Jokowi semakin stres karena terlalu sering melihat telepon genggam (handphone), khususnya ketika melihat wajah tiga tokoh yang terlibat dalam kasus tersebut. Ia berpandangan bahwa rutinitas ini memperburuk kondisi autoimun Jokowi dan berpotensi berdampak negatif bagi kesehatannya. Untuk mengatasi hal itu, ia menyarankan agar Jokowi “melempar semua handphone‑nya” supaya bisa lebih tenang dan mengurangi stres. Selain itu, Rocky juga menyarankan agar Jokowi lebih banyak meningkatkan produksi hormon yang menenangkan batin seperti oksitosin. Secara singkat, inti dari saran Rocky adalah bahwa Jokowi perlu mengurangi paparan terhadap hal‑hal yang memicu stres, termasuk media sosial dan telepon genggam, agar kesehatan jiwanya lebih terjaga.
Menimbang Kekhawatiran Itu
Kekhawatiran mengenai kesehatan tokoh publik, terutama pemimpin negara, bukanlah sesuatu yang asing di ruang publik. Ketika seseorang memegang tanggung jawab besar seperti menjadi presiden, pola hidup, tingkat stres, dan kesehatan fisik maupun mental menjadi sorotan wajar masyarakat. Namun, konteks pernyataan Rocky menimbulkan perdebatan karena ia menghubungkan langsung isu kesehatan dengan cara Jokowi menggunakan telepon genggam, yang menurutnya memperburuk kondisi autoimun.
Istilah “autoimun” sendiri merujuk pada kondisi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri. Jika seseorang mengalami gangguan autoimun, maka stres kronis atau faktor psikologis tertentu memang dapat memperburuk gejala. Tetapi, menghubungkan secara langsung gangguan kesehatan seorang tokoh publik dengan penggunaan handphone di ruang publik jelas membutuhkan pembuktian yang lebih kuat agar tidak dianggap sebagai spekulasi belaka.
Reaksi dan Potensi Implikasi Publik
Pernyataan seperti ini tentu menimbulkan berbagai reaksi dari publik. Ada yang melihatnya sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan seorang mantan presiden terutama sejak Jokowi tidak lagi memegang jabatan resmi negara namun ada pula yang memandangnya sebagai cara yang kurang tepat untuk menyampaikan kekhawatiran, bahkan bisa berpotensi memicu spekulasi negatif yang tidak berdasar.
Selain itu, kekhawatiran kesehatan seorang tokoh publik bisa berimplikasi pada persepsi masyarakat terkait kondisi stabilitas politik dan sosial. Bila publik menilai bahwa mantan atau pejabat tinggi negara sedang mengalami gangguan kesehatan serius, hal ini bisa berdampak pada sentimen politik, kepercayaan publik, hingga spekulasi lebih luas tentang masa depan pemerintahan atau ketahanan institusi negara.
Kritik dan Kontroversi Seputar Rocky Gerung
Rocky Gerung bukanlah sosok yang asing dengan kritik tajam terhadap Jokowi dan kebijakan‑kebijakan pemerintahannya. Selama bertahun‑tahun, ia dikenal sebagai pengamat politik yang sering melontarkan pernyataan keras terhadap berbagai keputusan atau citra tokoh politik tertentu, termasuk Jokowi. Dalam berbagai pernyataannya di masa lalu, Rocky juga pernah mengkritik secara terbuka tindakan Jokowi dalam konteks yang sangat berbeda misalnya tentang kebiasaan Jokowi ‘mengintip’ grup WhatsApp tertentu yang memicu respons dari pihak pemerintahan dan analis politik lainnya.
Selain itu, pernyataan Rocky tentang isu ijazah Jokowi yang kini menjadi topik penyelidikan juga mencerminkan sikapnya yang memandang bahwa skeptisisme publik terhadap figur publik adalah bagian penting dari demokrasi dan pengetahuan. Namun, di sisi lain, pendekatan yang ia gunakan sering kali dipandang kontroversial oleh sebagian kalangan karena dinilai mudah memicu ketegangan politik dan berpotensi mengaburkan batas antara kritik objektif dan spekulasi yang kurang berdasar.
Antara Kepedulian dan Sensasi
Penting untuk melihat pernyataan seperti ini melalui lensa yang objektif dan bijak. Kekhawatiran tentang kesehatan seorang individu apalagi yang pernah memegang kekuasaan besar seperti Jokowi adalah hal yang bisa dimaklumi dalam ruang publik yang demokratis. Wajar jika masyarakat ingin tahu bagaimana mantan pemimpin mereka menjalani kehidupan setelah masa jabatan. Namun, mengangkat isu kesehatan sekaligus mengaitkannya dengan teori yang mungkin belum jelas bukti ilmiahnya bisa berujung pada perdebatan panjang yang tidak selalu sehat. Banyak pihak mampu menyampaikan pendapat atau kritik terhadap kondisi kesehatan (atau aspek lain dari kehidupan pribadi tokoh publik), tetapi dalam mengemukakannya diperlukan sikap bertanggung jawab agar tidak memperburuk citra publik maupun meningkatkan spekulasi negatif tanpa dasar yang kuat.
Peran Media, Publik, dan Tokoh Publik
Media massa memiliki peran penting untuk memberitakan fakta yang dapat diverifikasi, serta menyeimbangkan laporan mengenai isu sensitif seperti kesehatan figur publik. Di sisi lain, publik juga perlu bersikap kritis terhadap setiap informasi yang beredar, memastikan sumber informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Tokoh publik seperti Rocky Gerung tentunya memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya, sebagaimana prinsip kebebasan berekspresi dijamin dalam sistem demokrasi. Namun, tanggung jawab moral dalam mengeluarkan pernyataan yang berpotensi memengaruhi opini publik juga perlu menjadi pertimbangan utama.
