Pilarupdate.com — Di tengah keramaian kota metropolitan yang terus berkembang, sebuah bangunan tua tetap menyimpan keheningan dan sejarah panjang. Klenteng Hok Lay Kiong, yang kini menjadi saksi hidup perjalanan masyarakat Tionghoa di Bekasi, kembali bersolek menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili/2026 Masehi yang akan jatuh pada 17 Februari mendatang.
Bangunan ini bukan sekadar rumah ibadah; ia menyimpan lebih dari tiga abad sejarah yang kuat. Sebagai klenteng tertua di Kota Bekasi, Hok Lay Kiong berdiri sekitar abad ke‑18 di kawasan Jalan Mayor Oking (dulu Jalan Kenari), Bekasi Timur lokasi yang kini menjadi pusat aktivitas spiritual dan budaya bagi ribuan umat setiap tahunnya.
Warna, Tradisi, dan Sejarah yang Terjaga
Sejak beberapa pekan terakhir, suasana di sekitar klenteng sudah mulai berbeda dari hari biasa. Pihak pengurus terlihat sibuk memasang lampion‑lampion merah baru yang berkilau, menggantikan yang lama dan kusam. Lebih dari 800 lampion kini menghiasi area klenteng, sementara ribuan lagi dijadwalkan akan memenuhi kawasan sekitar Jalan Mayor Oking. Warna merah cerah yang dominan bukan sekadar estetika dalam budaya Tionghoa, merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan pengusiran energi negatif menjelang tahun baru.
Persiapan secara fisik juga diimbangi dengan penataan perlengkapan ibadah seperti hio dan lilin besar yang akan dipakai umat saat perayaan. Suasana harap dan doa pun kian terasa ketimbang sekadar dekorasi. Klenteng Hok Lay Kiong diperkirakan dapat menampung antara 300 sampai 500 orang dalam satu waktu, fungsinya tak hanya untuk tempat sembahyang tetapi juga sebagai titik temu komunitas dalam momen‑momen penting seperti Imlek, Cap Go Meh, atau perayaan lainnya sepanjang kalender Tionghoa.
Makna Nama dan Nilai Spiritual
Nama Hok Lay Kiong sendiri sarat makna. Dalam bahasa Tionghoa, nama itu sering diartikan sebagai “istana yang mendatangkan rezeki”, simbol harapan agar setiap orang yang datang diberkahi keberuntungan dan kelancaran hidup. Kepercayaan ini terus dipupuk generasi demi generasi sejak klenteng pertama kali dibangun oleh komunitas imigran Tionghoa yang datang dari Batavia (sekarang Jakarta) setelah peristiwa konflik di masa kolonial. Bangunan itu kini tidak hanya menjadi tempat ibadah yang sakral, tetapi juga saksi bisu sejarah panjang keberadaan masyarakat Tionghoa di Bekasi. Meski banyak bagian klenteng telah mengalami renovasi, beberapa elemen kuno seperti pintu‑pintu asli dari abad ke‑18 masih tersisa dan dipertahankan sebagai peninggalan sejarah.
Harmoni Ajaran dan Komunitas
Klenteng ini melayani umat dari tiga ajaran utama, yakni Konghucu, Tao, dan Buddha, yang dikenal bersama sebagai Tridharma. Dewa utama yang disembah adalah Xuantian Shangdi, dewa langit dan pelindung, yang ditemani sejumlah figur lain yang dipercaya membawa beragam berkah seperti rezeki, keadilan, dan keselamatan. Ritus dan kebiasaan di sini bukan sekadar ritual keagamaan. Mereka sarat simbol dan makna yang mencerminkan perjalanan hidup dan harapan umat manusia. Misalnya, proses pembersihan altar, pemasangan lampion, sampai doa bersama ibarat persiapan mental dan spiritual umat dalam menyambut tahun baru yang diharapkan lebih baik dari tahun sebelumnya. Hal ini sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi leluhur tetap relevan di tengah dinamika kehidupan modern.
Magnet Budaya yang Terus Hidup
Selain sebagai pusat ibadah, Hok Lay Kiong telah berkembang menjadi magnet budaya di Bekasi. Pada perayaan Imlek atau Cap Go Meh, ribuan umat dan juga warga umum dari berbagai kawasan seperti Jakarta, Depok, atau Tangerang sering datang untuk berpartisipasi, baik dalam doa maupun menyaksikan rangkaian budaya seperti tarian barongsai atau pertunjukan lain khas Imlek. Meski demikian, tak sedikit pula pengunjung yang datang sekadar untuk menyaksikan warna‑warni perayaan dan menikmati suasana khas Pecinan Bekasi. Pendekatan sekuler dan spiritual sering bertemu di tempat ini, menciptakan ruang interaksi budaya yang unik sekaligus harmoni sosial di tengah keragaman.
Menghadap Tahun Baru dengan Harapan
Menjelang Imlek 2577, persiapan di Klenteng Hok Lay Kiong mencerminkan lebih dari sekadar hiasan. Ia merupakan pengakuan hidup akan tradisi yang terus dipelihara, menghormati masa lalu sekaligus menyongsong masa depan dengan penuh harapan. Dalam semarak lampion merah dan patung‑patung dewa yang tertata rapi, klenteng itu berdiri bukan hanya sebagai bangunan tua yang tersentuh waktu, tetapi sebagai ruang kehidupan yang terus berdenyut menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang dalam satu doa yang khusyuk dan penuh harapan di setiap langkah perayaan Imlek
