Pilarupdate.com — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia menegaskan penanganan secara menyeluruh terhadap wabah demam berdarah dengue (DBD) dan penyakit tangan, kaki, dan mulut (HFMD) yang saat ini dilaporkan meningkat di berbagai daerah. Wabah kedua penyakit ini menjadi perhatian serius karena berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, dan menuntut langkah cepat serta koordinasi lintas sektor untuk menekan penyebarannya. Dalam beberapa minggu terakhir, laporan kasus DBD dan HFMD mengalami peningkatan signifikan. DBD, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, masih menjadi penyakit menular yang membahayakan nyawa jika tidak segera ditangani. Sementara HFMD, penyakit virus yang umumnya menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun, dapat menyebar dengan cepat melalui kontak langsung maupun permukaan yang terkontaminasi.
Penyebab Peningkatan Kasus
Menurut Kemenkes, peningkatan kasus DBD dan HFMD dipengaruhi oleh beberapa faktor. Untuk DBD, curah hujan yang tinggi dan musim hujan yang berkepanjangan menciptakan kondisi ideal bagi perkembangbiakan nyamuk. Tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi, gentong, dan pot bunga, menjadi sarang nyamuk jika tidak rutin dibersihkan. Faktor lingkungan ini diperparah oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Sedangkan HFMD cenderung menyebar di lingkungan sekolah, taman kanak-kanak, dan fasilitas penitipan anak. Virus penyebab HFMD, seperti Coxsackievirus A16 atau Enterovirus 71, menular melalui kontak langsung dengan cairan dari lesi kulit, air liur, lendir hidung, atau feses anak yang terinfeksi. Kurangnya penerapan protokol kebersihan yang ketat di tempat-tempat anak berkumpul menjadi faktor risiko utama.
Upaya Penanganan DBD
Kemenkes menekankan pentingnya penanganan DBD secara cepat dan menyeluruh. Langkah pertama adalah deteksi dini melalui laporan kasus dari fasilitas kesehatan. Setiap pasien yang menunjukkan gejala demam tinggi, nyeri otot, nyeri sendi, dan ruam kulit harus segera diperiksa untuk memastikan diagnosis DBD. Penanganan medis yang tepat termasuk pemberian cairan intravena untuk mencegah dehidrasi dan komplikasi serius. Selain itu, upaya pencegahan dilakukan melalui gerakan masyarakat, seperti PSN dan 3M (Menguras, Menutup, dan Mengubur) tempat penampungan air. Pemerintah daerah juga diminta melakukan fogging di wilayah dengan laporan kasus tinggi untuk membunuh nyamuk dewasa. Kemenkes menekankan bahwa kesadaran individu dan partisipasi komunitas sangat menentukan efektivitas penanggulangan DBD.
Penanganan HFMD
Untuk HFMD, fokus penanganan adalah pada pengendalian penyebaran virus di kalangan anak-anak. Orang tua dan pengelola sekolah atau tempat penitipan anak diimbau meningkatkan kebersihan tangan anak-anak, rutin membersihkan mainan dan fasilitas bermain, serta segera memisahkan anak yang menunjukkan gejala seperti demam, lesi di tangan, kaki, atau mulut, serta malas makan. Kemenkes juga mengingatkan tenaga medis untuk memantau gejala komplikasi, meski sebagian besar kasus HFMD bersifat ringan dan sembuh dalam 7–10 hari. Komplikasi serius, seperti infeksi sistem saraf atau gangguan jantung, walau jarang, tetap membutuhkan penanganan intensif di rumah sakit.
Koordinasi Lintas Sektor
Penanganan wabah DBD dan HFMD tidak bisa dilakukan oleh Kemenkes saja. Dibutuhkan koordinasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, dinas kesehatan, sekolah, hingga masyarakat. Kemenkes telah mendorong pembentukan posko kesehatan di wilayah rawan untuk memantau kasus dan menyediakan layanan medis darurat. Selain itu, program edukasi kesehatan tentang pencegahan dan gejala kedua penyakit terus digalakkan melalui media sosial, televisi, radio, dan kegiatan di komunitas. Kemenkes juga mendorong penelitian lebih lanjut terkait vaksin dan obat untuk kedua penyakit. Untuk DBD, vaksin dengue sudah tersedia, namun penerapannya masih disesuaikan dengan rekomendasi kesehatan dan kelompok usia tertentu. Untuk HFMD, pengembangan vaksin masih berlangsung, terutama terhadap Enterovirus 71 yang lebih berisiko menimbulkan komplikasi serius.
Edukasi Masyarakat
Edukasi masyarakat menjadi kunci penting dalam menanggulangi wabah ini. Kemenkes menekankan bahwa kesadaran individu dalam menjaga lingkungan bersih dan menerapkan kebersihan diri sangat memengaruhi penyebaran penyakit. Misalnya, rutin menguras dan menutup tempat penampungan air dapat menekan populasi nyamuk DBD. Sementara mencuci tangan dengan sabun secara rutin dan menjaga kebersihan mainan anak dapat menekan risiko HFMD. Masyarakat juga diingatkan agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala demam tinggi atau muncul ruam pada kulit. Penanganan medis dini dapat mencegah komplikasi dan menurunkan angka kematian.
Tantangan dan Strategi
Tantangan terbesar dalam penanganan wabah ini adalah rendahnya kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan dan kebersihan lingkungan. Beberapa daerah masih menghadapi kesulitan dalam pelaksanaan PSN dan pengawasan anak-anak di fasilitas penitipan. Untuk itu, Kemenkes mendorong partisipasi aktif tokoh masyarakat, guru, dan kader kesehatan untuk mengedukasi serta memantau penerapan langkah pencegahan. Strategi jangka panjang mencakup penguatan sistem surveillance atau pemantauan penyakit menular, peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan, serta kampanye kesehatan berkelanjutan. Kemenkes menegaskan bahwa pencegahan tetap lebih efektif dibandingkan penanganan pasca-penyakit.
Harapan Kemenkes
Dengan penanganan menyeluruh, Kemenkes optimistis kasus DBD dan HFMD dapat ditekan. Langkah-langkah terpadu antara deteksi dini, pengobatan, pencegahan, edukasi masyarakat, dan koordinasi lintas sektor diharapkan mampu menurunkan angka kejadian dan risiko komplikasi. Kemenkes menegaskan komitmennya untuk memastikan setiap warga mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang cepat dan tepat. Kemenkes juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan wabah. Perubahan perilaku sederhana, seperti membersihkan lingkungan, mencuci tangan, dan segera melaporkan kasus sakit, dapat memberikan dampak besar. Dengan kesadaran kolektif, wabah DBD dan HFMD diharapkan dapat dikendalikan dengan lebih efektif, sehingga kesehatan masyarakat tetap terjaga dan angka kematian akibat kedua penyakit menurun.
