Pilarupdate.com — Perdebatan tentang perbandingan antara dua ikon destinasi wisata Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bali kembali mengemuka. Baru‑baru ini Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur DIY, menegaskan bahwa pariwisata Jogja tak perlu dibandingkan dengan Bali karena kedua daerah memiliki karakter serta tujuan wisata yang berbeda. Pernyataan itu sekaligus menjadi pesan penting dalam cara memajukan pariwisata yang berkelanjutan dan berakar pada budaya lokal.
Pesan Sri Sultan: “Jogja Bukan Bali”
Dalam sebuah kesempatan usai pelantikan pengurus Kadin kabupaten/kota se‑DIY, Sri Sultan menyampaikan respons tegas terhadap tren investor yang mencoba membawa konsep pariwisata Bali ke Jogja. Beliau menegaskan bahwa secara fundamental, struktur budaya, tradisi, dan preferensi pariwisata Jogja berbeda dengan Bali, sehingga tidak tepat bila kedua kawasan dibandingkan secara langsung.
“Kita tidak usah diperbandingkan dengan Bali. Jogja ya untuk Jogja sendiri,” ujar Sultan kepada wartawan, seraya menegaskan bahwa identitas budaya Jogja harus dipertahankan dan dilestarikan. Budaya ini termasuk adat, seni tradisional, hingga sejarah keraton yang kental menjadi magnet utama yang berbeda dari Bali yang sejak lama populer dengan pariwisata pantai, spa, dan hiburan modern.
Respons ini muncul di tengah meningkatnya minat investor yang masuk ke kawasan Jogja, khususnya di kawasan pesisir seperti Gunungkidul, yang sering kali ingin “mem‑Bali‑kan” wilayah tersebut dalam bentuk pembangunan besar‑besaran yang mirip dengan gaya pariwisata Pulau Dewata. Sri Sultan, bersama dengan GKR Mangkubumi Ketua Kadin DIY mengingatkan bahwa pembangunan harus selaras dengan visi daerah dan menghormati nilai budaya setempat, serta tidak merusak identitas asli Jogja.
Jogja dan Bali: Dua Wajah Pariwisata yang Berbeda
Perbandingan antara Jogja dan Bali bukan hal baru dalam wacana pariwisata Indonesia. Bali telah lama dikenal sebagai destinasi internasional kelas dunia, menarik jutaan wisatawan mancanegara setiap tahun dengan kombinasi pantai, kehidupan malam, dan budaya Hindu yang khas. Sementara itu, Jogja lebih identik dengan wisata budaya, pendidikan, sejarah, dan kearifan lokal yang khas Jawa.
Beberapa perbedaan mendasar antara kedua destinasi ini meliputi:
-
Karakter pengalaman wisata: Bali kerap menawarkan pengalaman resort‑style, pantai tropis, dan hiburan internasional. Jogja lebih menawarkan pengalaman wisata budaya dan sejarah, seperti kunjungan ke candi, keraton, seni tradisional, dan kuliner khas.
-
Pengembangan pariwisata: Bali tumbuh melalui pembangunan yang masif dan orientasi terhadap pasar global sejak lama. Jogja lebih mempertahankan pengembangan berkelanjutan yang berbasis komunitas lokal.
-
Dampak sosial: Bali juga menghadapi tantangan sosial seperti kenaikan harga tanah dan tekanan terhadap masyarakat setempat karena dominasi pariwisata. Jogja sejauh ini masih mempertahankan keseimbangan antara wisatawan dan komunitas lokal tanpa tekanan yang terlalu ekstrem.
Karena karakter yang berbeda ini, perbandingan langsung antara Bali dan Jogja sering kali dinilai tidak adil atau kurang tepat. Alih‑alih bersaing, kedua destinasi justru bisa saling melengkapi dalam peta pariwisata Indonesia yang lebih luas.
Pariwisata Jogja: Melonjak Tanpa Meniru Bali
Menariknya, tren pariwisata domestik menunjukkan bahwa minat terhadap Yogyakarta semakin meningkat, bahkan terkadang menyaingi kunjungan ke Bali dari segmentasi wisatawan dalam negeri. Pada akhir tahun lalu, data menunjukkan pertumbuhan signifikan kunjungan domestik ke Jogja meski Bali tetap ramai. Hal ini mencerminkan bahwa wisatawan juga mencari pengalaman budaya dan suasana berbeda dari sekadar pantai atau hiburan modern.
Fenomena ini bukan berarti Jogja menjadi “pengganti Bali”, tetapi justru menunjukkan bahwa destinasi yang kuat pada identitasnya sendiri memiliki daya tarik besar bagi wisatawan. Wisatawan lokal kini semakin sadar bahwa pilihan tujuan liburan tidak hanya terpusat pada Bali, tetapi juga kota‑kota lain yang menawarkan pengalaman bermakna serta estetika budaya, dan di antara itu, Jogja menonjol.
Menjaga Identitas Tanpa Menutup Pintu Investasi
Meskipun Sri Sultan menolak perbandingan dengan Bali, bukan berarti Jogja menolak investasi. Justru pesan yang disampaikan adalah mengelola investasi dengan cermat, agar strategi pembangunan tidak melupakan akar budaya dan kesejahteraan masyarakat lokal. Pembangunan tetap dibuka tetapi dengan konsep yang menghormati karakter Jogja.
Menurut pernyataan GKR Mangkubumi selaku Ketua Kadin DIY, pembangunan kawasan wisata di Gunungkidul seharusnya memperhatikan aturan tata ruang, ekologi, dan visi jangka panjang wilayah, serta tidak sekadar meniru Bali secara mekanistis. Fokusnya tetap pada keunikan identitas lokal yang menjadi sumber daya utama pariwisata Jogja.
Pesan ini sekaligus menjadi panggilan bagi para pelaku usaha dan investor untuk berpikir kreatif dalam mengembangkan destinasi yang tetap setia pada akar budaya dan sejarah, bukan hanya mengikuti tren global semata. Ini juga menjadi tantangan bagi pemangku kebijakan untuk memastikan bahwa wisata Jogja tetap berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
Kesimpulan: Pariwisata Jogja yang Autentik dan Berkelanjutan
Pernyataan Sri Sultan Hamengku Buwono X bahwa Jogja tidak perlu dibandingkan dengan Bali bukan sekedar kritik terhadap perbandingan semata, tetapi lebih dalam lagi menjadi sebuah pesan strategis bagi arah pariwisata Indonesia. Jogja diharapkan tetap menjadi destinasi dengan identitasnya sendiri kuat, autentik, dan menghormati nilai budaya sembari tetap terbuka terhadap investasi yang tepat dan bertanggung jawab.
Daripada bersaing head‑to‑head dengan Bali, Jogja justru memiliki peluang besar untuk menjadi magnet wisatawan yang mencari pengalaman berbeda: budaya, sejarah, tradisi, dan kearifan lokal yang otentik. Dengan pendekatan seperti ini, pariwisata Indonesia tidak hanya tumbuh secara kuantitas tetapi juga kualitas, berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dan pelestarian budaya yang berkelanjutan untuk generasi yang akan datang.
